Dolan Ke Blendrang Ngantang

blendrang1a

Selewat jalan saat melintas dari arah Kediri ke arah Malang, rasa ingin tahu pun hadir saat melewati pertigaan Ngantang. Dari arah Kediri saya pun berbelok kiri mengarah ke pasar Ngantang. Bertahun-tahun melewati daerah ini, saya penasaran dengan daerah dekat pasar ngantang ini.

Jalan yang lumayan lebar dan rapi lepas pasar Ngantang meyambut saya. Melewati kantor kecamatan Ngantang serta beberapa fasilitas umum di kecamatan Ngantang sa,pailah saya di ujung jalan. Papan petunjuk arah ke daerah pemancingan dan perahu mengarahkan saya ke pinggir waduk Selorejo.

Hari itu nampak beberapa siswa sekolah yang sedang menikmati pemandangan di pinggir danau. Maklum siang itu memang sehabis waktu pulang sekolah. Mengasyikkan rupanya sepulang sekolah mampir kepinggir waduk menikmati pemandangan waduk serta gugusan gunung di latar belakang.

blendrang2a

Mencoba lebih masuk lebih dalam melalui jalan berpaving hingga di ujung jalan nampak beberapa orang yang sedang mencari ikan. Ada yang menggunakan perahu sampan sambil menebar jaring. Ada pula yang memancing ikan di spot ini. Nampak beberapa sepeda motor terparkir tak jauh dari jalan berpaving ini. Sayang sekali saya tidak membawa peralatan mancing. Mancing di bawah rindang pohon pinggir waduk sepertinya memberi hiburan ter sendiri.

Tak terasa hampir setengah jam menikmati pemandangan di Blendrang, saya kemudian melanjutkan perjalanan. Kawasan menarik untuk disambangi lagi untuk jika melintasi jalan Malang menuju Kediri via Ngantang. terutama mereka yang suka mencing.

Coban Kletak Kasembon

CobanKletak1a

Keberadaan Air Terjun Coban Kletak ini sebenarnya sudah saya dengar semenjak beberapa bulan lalu. Hanya baru bulan lalu saya sempat mengunjung tempat wisata di kawasan Kasembon ini. Saat melintas di jalan antara Ngoro-Kandangan beberapa spanduk promosi tempat wisata di Kasembon ini menarik perhatian saya.

cobanKletak2a

Senyampang hari masih belum terlalu siang saya coba untuk singgah ke Coban Kletak. Dari SPBU Kasembon saya coba bertanya ancer-ancer dari air terjun ini. Sekitar 20 menit jawab petugas SPBU saat berapa lama lagi perjalanan menuju sana.

Desa Pait Kecamatan kasembon letak dari Coban Kletak ini. Meski letaknya sangat dekat dari pinggir jalan yang menghubungkan kota Malang dan Kediri, terkadang bila tidak diperhatikan dengan seksama, bisa-bisa terlewati begitu saja.

Dengan membayar tiket sebesar Rp. 10.000,00(Sabtu,Minggu,Hari Besar) dan Rp. 5000,00(Hari SEnin-Jumat), kita bisa menikmati air terjun yang memanfaatkan aliran Kali Lanang ini. Tidak Hanya air terjun saja, di lokasi ini juga terdapat arena permainan anak dan olahraga. Selain itu juga ada pohon raksasa tak jauh dari air terjun ini. Tak lupa juga saat saya berkunjung juga sedang dibangun panggung hiburan untuk menunjang fasilitas tempat wisata ini.

Bagi mereka yang ini ber swafoto di Coban Kletak ini juga telah disediakan jembatan bambu yang bisa menampung 20 orang. Sehingga pengunjung tidak perlu untuk turun ke sungai atau air terjun jika ingin memngambil gambar air terjun. Selain itu kita bisa melihat batu berbentuk kepala singa yang ada di bagian atas air terjun dari jembatan bambu ini.

Meskipun air terjun ini tidak terlalu tinggi, tetapi kita juga harus waspada mengingat arusnya yang lumayan deras apalagi di musim hujan. Ditambah lagi banyaknya bebatuan yang ada di dekat air terjun. Apabila kondisi cuaca kurang mendukung jangan memaksakan diri untuk mendekati air terjun.

Jika anda ingin mengunjung Coban Kletak ini dari arah Surabaya dan sekitarnya, anda bisa menempuh jalur Surabaya- Mojokerto- Mojoagung- Ngoro- Kandangan-Kasembon-Pait. Rute ini bisa jadi pilihan mengingat jika melewati Malang- Batu terkadang sangat padat terutama saat liburan. Sebagai gambaran dengan mengendarai motor bebek dari Surabaya menuju Coban Kletak melewati Ngoro-Kandangan membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam dengan kecepatan standar.

Goreng Kopi

image

Hampir dua tahun ini kegiatan goreng kopi jadi salah satu aktivitas dapur kesukaan saya. Harum wangi kopi terkadang masih terasa di dapur beberapa hari. Sebenarnya menggoreng kopi bukan hal asing lagi di keluarga. Dulu saat SMA hampir tiap bulan tugas menggoreng kopi tak terlewatkan.
Saat belanja bulanan ibu memasukkan kopi mentah dalam daftar belanjaan. Maklum saja dari dulu bapak memang gemar menikmati kopi. Bukannya tak percaya dengan produk kopi yang beredar di pasaran tapi selera memang tidak bisa terganti.
Sayangnya aktivitas ini sempat terhenti saat saya kuliah dan bapak sempat sakit sehingga harus menghentikan kebiasaan minum kopi.
Kopi yang dipilih pun bukanlah kopi yang aneh-aneh, cukup kopi robusta lokal yang dibeli di pasar dekat rumah. Menggorengnya juga tidak menggunakan alat roasting canggih. Wajan penggorengan lah jadi alat andalan untuk menggoreng kopi.
Tidak ada trik atau perlakuan khusus dalam menggoreng kopi dengan wajan ini. Cukup panaskan wajan beberapa saat sebelum memasukkan biji kopi mentah. Setelah dirasa cukup panas masukkan biji kopi ke dalam wajan. Biasanya saya memasukkan 250 gram kopi sekali sangrai. Setelah biji kopi dimasukkan sendok kayu digunakan untuk mengaduk. Proses mengaduk ini berlangsung terus menerus hingga kopi dirasa cukup matang atau siap diangkat. Waktu yang diperlukan sekitar 20-30 menit atau menyesuaikan tingkat kegosongan kopi. Dulu saat awal menggoreng kopi saya sering menggoreng hingga biji kopi berwarna hitam pekat. Tapi kini saya cenderung menghindari kopi yang terlalu gosong. Setelah suara pecahan biji kopi kedua, api kompor sudah dimatikan sambil masih mengaduk biji kopi.

image

Biji kopi yang masih panas lalu diangin-angin beberapa saat sebelum dimasukkan ke tempat penyimpanan. Bila dulu setelah dingin kopi langsung digiling maka sekarang biji kopi sangrai disimpan dulu. Jika hendak disajikan barulah biji kopi tersebut digiling sesuai kebutuhan.

image

Nasi(onalisme) Pecel

image

Sebungkus bumbu pecel tergeletak di sudut meja makan rumah ibu. “Kok masih utuh dan masih tersegel rapi” tanyaku dalam hati. Iseng-iseng aku minta buat persediaan di rumah dan ternyata diijinkan oleh ibu. Sampainya di rumah kuamati ternyata sambel pecel ini berasal dari kota di barat Jawa Timur. Seorang kerabat membawanya sebagai buah tangan.
Bagi warga Jawa Timur umumnya pecel bisa dikatakan jadi makanan sehari-hari. Tak hanya itu setiap kota hampir memiliki nasi pecel khasnya. Dan bagi beberapa orang bahkan ada yang fanatik dengan pecel daerah tertentu.
Cerita lain saat hamil anak ke dua, istriku tiba-tiba ingin pecel kediri,tentu ini hal yang mudah jika saat itu posisi ada di rumah mertua yang ada di sudut kabupaten Kediri. Tapi saat itu sudah mendekati masa detik-detik persalinan dan tidak mungkin membawa pecel langsung dari Kediri. Untunglah setelah berburu warung pecel akhirnya sebungkus nasi pecel Kediri lengkap dengan sambel tumpangnya dapat terbeli meskipun letak warungnya agak nyelempit. Rasa puas terpancar dari istriku bahkan tempenya pun mirip dengan yang ada di rumah begitu komentar yang keluar.
Lain cerita dengan ibu, lahir di kota sebelah selatan Jawa Timur yang juga terkenal dengan pecelnya. Sambel pecel jadi barang yang hampir selalu ada dalam tas. Beda rasanya sambel pecel yang ada di Gresik dengan yang beliau bawa, jelas ibu saat ditanya alasannya. Seolah ada ikatan antara keduanya. Meskipun untuk saat yang lain nasi pecel mana pun juga dinikmati. Tetapi nasi pecel dengan pakem daerah tertentu juga masih melekat di lidah warganya meski sudah berpindah tempat tinggal.

Kopi Kasar

image

“Sampean suka kopi yang agak kasar ta?”, sedikit tanya dari penjual kopi langganan. Lazimnya di lapak penjual kopi itu pembeli memilih kopi lalu sang penjual menggiling kopi langsung dengan mesin selep.
Tapi hari itu tidak bagi ku seperempat kilo kopi lanang robusta lokal yang kubeli sengaja tidak aku giling. Hanya biji kopi sangrai yang ada di kantong plastik.
Semenjak ada alat giling kopi di rumah,aku jadi lebih leluasa memilih gaya seduhan kopi. Jika ingin kopi layaknya kopi kebanyakan maka tinggal setting saja grinder ke ukuran yang halus, pun juga sebaliknya. Perbedaan yang pasti tenaga yang digunakan untuk menggiling kopi halus lebih besar daripada kopi kasar. Harap maklum penggiling kopi di rumah masih membutuhkan tenaga tangan untuk menggerakkannya alias manual.
Sebenarnya kopi kasar bukanlah hal yang asing. Kalau biasanya di warung kopi umumnya di Gresik bubuk kopi yang digunakan kopi bubuk yang halus tapi sajian kopi kasar juga menghiasi khasanah kopi di kota sejuta warkop ini. Warung kopi di daerah bedilan,kramat langon,atau di dekat pasar Gresik masih yang menyajikan kopi dengan gilingan kasar ini.
Saat kopi disajikan sensasi bubuk kopi yang memenuhi permukaan cangkir menjadi daya tarik tersendiri. Harum bau kopinya yang tak kalah dengan sajian kopi lain pun juga jadi magnet bagi penyuka kopi.
Kopi kasar bisa jadi salah satu alternatif penyajian kopi buat anda selain metode penyajian yang lain.
Salam kopi

Kangen Sahur

“Kangen sahur ambek arek-arek”*
Selintas kalimat sms dari kawan yang saya terima tadi sahur,sesaat sebelum imsyak. Teringat bertahun lalu malam malam sahur bersama kawan semasa kuliah. Memang saya tidak tinggal menetap dan jadi warga urban komuter di kota terbesar di Indonesia dulu ketika kuliah. Namun terkadang saya harus menginap di tempat teman sekadar untuk mengejar kuliah esok hari atau malas pulang karena terlalu malam.
Di masa ini lah teman menjadi pengganti kerabat saat sahur mendekat.
Mulai dari nonton acara topan leysus(almarhum) di saat sahur hingga sibuk cari santap sahur di pasar karmen( sekalian lihat anak penjual pecel ajak karib saya dulu hehehe).
Pun beranjak setelah lepas perkuliahan, acara sahur bersama teman masih berlanjut bersama rekan di komunitas. Terkadang sahur pun dibarengi dengan membangunkan teman lain yang tinggal di kost an. Lalu lanjut makan sahur bareng di pinggir jalan. Bila sedang beruntung ajakan kawan yang mengajak makan sahur di rumah bisa jadi selingan saat melewati bulan ramadhan ini.
Tak lama kemudian saya balas smsnya” iyo podo jeh”.
Selamat menjalankan puasa bagi yang menjalankannya dan tetap jaga silaturahim.

Kue Kaleng

Yah gak beli kue buat lebaran?”, tanya anak mbarep sambil menunjuk tumpukan biskuit kaleng di sudut toko swalayan langganan beberapa hari yang lalu. “Belum dulu ya kak”, jawab saya ringan. Sepulang di rumah saya teringat seorang kawan yang dulu bekerja sebagai tenaga penjualan keliling perusahaan consumer goods.
Kerja jualan biskuit kaleng ini paling baru terasa waktu sebelum ramadhan hingga akhir bulan lepas lebaran. Bulan-bulan sebelum ramadhan biskuit-biskuit kalengan ini mulai disebar ke penjuru pasar mulai desa,kota kecamatan,hingga pasar swalayan di kota besar. Mungkin ini penyebab beberapa item biskuit kalengan ini ada yang baru muncul menjelang lebaran.
Saat iklan mulai muncul di media massa, biskuit kalengan ini pun sudah harus siap tersedia di rak toko. Pun ini berlaku juga bagi sirup. Penjualan pun ikut terdongkrak hingga berlipat lipat.
Tak pelak hingga ada produk biskuit legendaris negeri ini mengklaim diri sebagai biskuitnya lebaran. Dan jangan lupakan iklan sirup yang kini jadi penanda bakal masuknya bulan puasa.