Sekonic Si Kecil Yang Agak Terlupakan


Alkisah di negeri Jepang, seorang ahli pengukur cahaya sedang mencoba alat barunya sebuah pengukur cahaya berukuran saku. Datanglah seorang rekannya yang berasal dari Indonesia kebetulan dia orang keturunan Madura sebut saja Mat Subishi(karena tinggal di Jepang).
Mat Subishi : Kamu agi coba apa itu?.
Si Jepang : Ini lho aku punya alat pengukur cahaya biar kalo mau motret kita dapat tahu diafragma sama speednya yang pas.
Mat Subishi : Emang ukuran sekecil itu bisa?
Si Jepang : Oh tentu bisa kan alatku canggih
Mat Subishi : Beuuuh mon canggih,sekonik poleh
Si Jepang : Kamu tadi ngomong apa?Sekonik?
Mat Subishi : iya kenapa?
Si Jepang : wah menarik tuh namanya Sekonik,artinya apa?
Mat Subishi : artinya kecil
Si Jepang : kebetulan lightmeter ini belum ada namanya,tak kasih nama Sekonik boleh ya?
Mat Subishi : gak masalah penting ada pengertian lah
Si Jepang : gampang lah kalo gitu kayak yang baru kenal aja

Untuk menyesuaikan dengan pasar internasional maka huruf terakhir diganti dengan “C” jadilah merek Sekonic yang dikenal hingga saat ini.

Cerita di atas bukanlah cerita sesungguhnya dari kemunculan pengkur cahaya atau flashmeter merek Sekonic. Menurut website Camerapidia.wiki.com inilah sekelumit cerita dari Sekonic sesungguhnya :
Sekonic adalah perusahaan Jepang pembuat lightmeter yang masih tetap berproduksi saat ini. Akar dari perusahaan ini nampaknya dapat ditelusuri pada Juni 1941. Dan hadir di lantai bursa pada Juni 1951 dengan nama Seiko Denki Kogyo K.K atau Seiko Electric Industies Co., Ltd., yang berbasis di Toshima, Tokyo. Pengukur cahaya produksi pertamanya adalah Sekonic P-I.
Tahun 1959 perusahaan ini membuka pabrik baru di Nerima, Tokyo dan mendirikan anak perusahaan K.K Hachiyo Kogaku Kogyo dengan pabrik di Ikeda prefektur Nagano untuk memproduksi pengukur cahaya. Perusahaan inti Seiko Denki Kogyo berubah nama menjadi K.K Sekonic pada bulan Agustus 1960 dan membuka lagi pabrik baru di Ikeda.
Selain menjual lightmeter dengan merek sendiri, Sekonic juga membuat part untuk perusahaan kamera lain dengan merek berbeda seperti Prinz dan Hanimex serta pesanan dari pabrik kamera di Jepang. Selain itu Sekonic juga membuat kamera film ukuran 8mm dan proyektor di tahun 1960-an. Beberapa di antaranya juga dijual dengan merek Hanimex dan Elmatic.
Tahun 1984, Sekonic L-518 Digipro X-1 meter digunakan oleh pesawat luar angkasa NASA.

Kembali ke flashmeter Sekonic,saya pribadi sudah mengenal lightmeter ini sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Kesempatan praktek studio dan menjadi asisten fotografer seorang senior menjadi awal pertemuan. Pada saat itu penggunaan lightmeter pada pemotretan cukup membantu terutama jika membutuhkan seting lampu studio.
Misalnya untuk lampu utama atau main light kita membutuhkan cahaya yang lebih kuat 1bisa kita setel sekitar f: 11 dan seting kamera menyesuaikan dengan setelan main light dengan diafragma f:11. Sedangkan lampu belakang dan samping bisa sedikit rendah setelannya semisal f:8 atau f:5.6.
Bisa juga kita gunakan untuk mendapatkan eksposure yang tepat dalam pemotretan indoor atau interior. Dengan menghitung antara cahaya yang ada dalam ruangan baik yang di tengah maupun dekat jendela.
Meskipun demikian penggunaan flash meter di bidang fotografi saat ini justru semakin jarang seiring dengan kemajuan dunia fotografi digital. Dengan alasan hasil pengukuran bisa dilihat langsung setelah memotret maka orang semakin enggan menggunakan flash meter/light meter. Apabila eksposure kurang atau lebih bisa dikoreksi baik saat itu dengan mengatur setelan kamera atau dengan olahan digital saat paska pemotretan. Kalau pun ada yang masih menggunakan alat ini biasanya mereka yang “rada” serius atau profesional atau bahkan cuma orang-orang dengan gaya “jaman dulu” yang pernah mengecap pengalaman dengan flash meter/light meter.
Sedikit pengalaman saya dengan flashmeter ini. Sekitar tahun 2004 saya berkesempatan ikut sebuah kursus fotografi di kawasan Barat Surabaya. Salah seorang pengajarnya berkata bahwa sebentar lagi flashmeter semacam ini sudah tidak terlalu digunakan lagi mengingat sudah memasuki jaman kamera digital. Kebetulan sang pengajar memakai kamera Nikon D70 yang waktu itu masih berharga belasan juta dan jarang sekali orang yang memiliki kamera digital terutama DSLR. Apalagi saat ini dengan semakin banyaknya orang yang memiliki DSLR baik karena harganya yang semakin terjangkau atau pun dengan alasan trend gaya hidup. Sempat juga sewaktu hendak membeli flash meter Sekonic L 308 S ini,pelayan toko kamera yang masih muda malah tidak mengetahui alat ini dan kegunaannya.
Tidak salah juga kok jika kita tidak menggunakan alat ini dengan alasan kepraktisan dan “efisiensi”. Tapi setidaknya bagi saya pengetahuan dan pemakaian alat ini membuat kita lebih tertib dan efektif dalam menghitung atau mengukur cahaya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: